Smpkayong's Blog


NASKAH FILM FIKSI (SMP)
Desember 16, 2009, 1:55 am
Filed under: Uncategorized

NASKAH  INDIE MOVIE

The Title

C I N T A

(Capai Impian dan Cita Cita)

Oleh: Miftahul Huda

1nd draft

J a n u a r y    2 0 0 9

  1. Ide Cerita : Kisah perjuangan seorang Anak Desa demi mengjar cita cita nya.
  2. Premis   : dengan segala daya upaya dan keterbatasan yang ada pada diri nya ia memilih sekolah yang banyak menyediakan waktu luang untuk membantu pekerjaan paman dan bibi nya yang ia tumpangi.
  3. Sinopsi : sopian 15 tahun seorang anak desa yang Polos dan lugu pindah sekolah ke kota, karena ayah nya sudah meninggal sehingga ibu nya seorang diri tidak mampu lagi untuk membiayai sekolah nya di karenakan adik – adiknya yang banyak. Di sebuah kota kecil Ridwan tinggal bersama Paman nya di rumah kontrakan. Pada awal nya Paman dan bibi sopian menyarankan untuk tidak sekolah karena tidak mampu membiayai. Namun pada akhirnya mereka mau mengabulkan permintaan sopian dengan syarat sopian tidak meninggalkan pekerjaan pokok ya`ni membantu paman – dan bibi nya mencari uang dengan cara menjadi pemulung. Setelah surat pindah di urus oleh sang paman akhirnya sopian masuk sekolah yang di pilihkan oleh paman nya. Hari pertama seperti nya agak berat untuk di lalui sopian, selain ejekan dari teman – teman nya  ia juga harus beradaptasi lebih jauh.

Dengan Berbagai halangan, tantangan, rintangan dan cobaan dalam kehidupan nya baik di sekolah atau di luar sekolah akhirnya sopian berhasil mendapatkan beasiswa dari pemerintah dengan predikat lulus terbaik nomor satu setingkat kabupaten.

TREATMENT

Babak 1 :

Suasana Desa dan kehidupan keluarga sopian yang sederhana, keluarga sopian adalah keluarga petani miskin ia di tinggal wafat ayahnya beberapa minggu lalu. Sang ibu yang bekerja sebagai buruh kebun memutuskan untuk sopain agar tidak sekolah, namun dengan lembut sopian menolak ia bersikeras supaya tetap sekolah dengan mengikuti paman nya yang berada di sebuah kota kecil  berjarak + 60 KM dari desa nya. Dengan berat hati akhirnya sang ibu mengizinkan nya pergi.

Di suatu Kota kecil yang sibuk dengan berbagai aktivitas lalu- lalang kendaraan berseliweran kesana kemari dengan berbagai kepentingan masing – masing.  Di sinilah sopian datang kepada paman nya, dengan berbekal apmlop yang telah lusuh ia bertanya – tanya pada setiap orang di jalan dan akhirnya ia naik ojek dan pergi ke alamat yang di maksud.

Sementara di satu sudut kota kecil tersebut telihat suasana yang begitu hening tanang dan damai. Di salah satu rumah  kontrakan sederhana yang di huni oleh 1 kepala keluarga yang terdiri dari tiga orang terlihat seorang lelaki sedang bersiap – siap untuk berangkat bekerja, namun saat melangkahkan kaki nya beberapa langkah tiba – tiba ia melihat seorang anak berusia 15 tahun yang sangat ia kenal dengan membawa tas cangklong menuju ke arah nya, tidak lain anak itu adalah Sopian yang baru datang dari Desa.

Babak 2 :

Setelah beberapahari tinggal di rumah paman nya ia kemudian mengutarakan maksud yang sesungguh nya untuk bersekolah. Pada awal nya mereka tidak menghendaki sopian sekolah karena tidak memiliki biaya, namun setelah sopian berjanji akan membantu mereka dan mencari biaya sendiri untuk kebutuhan sekolah akhirnya mereka mau mengabulkan permintaan sopian.

Setelah paman nya mengurus surat pindah akhirnya sopian di tempatkan di sekolah yang banyak waktu luang untuk bekerja membantu pamn dan bibi nya bekerja.

Hari pertama masuk sekolah adalah hari yang membosankan karena ia banyak di kerjai teman – teman baru nya, selain agak tampan namun lugu Sopian memang agak pendiam sehingga mereka tidak segan – segan mengerjai saat ia di suruh maju ke depan kelas dan memperkenalkan diri.

Bagian 3

Di sekolah Karakter sopian yang idealis dalam kehidupan sehari – hari membuat teman – teman nya yang baru banyak bersimpati pada nya, namun juga ada sebagian teman – teman nya yang nakal tidak suka karena merasa terancam dengan kejujuran dan keberanian nya.  Rasa terancam sebagian teman nya tersebut semakin menjadi manakala ia terpilih menjadi ketua kelas. Sehingga tidak heran beberapa kali sopian di kerjai, di jebak dan di fitnah oleh jumadi dan kawan kawan nya (gang preman di Sekolah). Namun walau demikian ia tetap sabar dan tidak membalas perbuatan tersebut. Banyak teman – teman nya yang Iba melihat sopian sering di dzhalimi, teman – teman sopian ingin membalas perbuatan Jumadi dan cs, namun Sopian tidak mengizinkan.

Jumadi dan cs nya Belum puas mengerjai Sopian, Hingga suatu hari saat istirahat tiba Jumadi diam – diam menyelinap masuk kelas dan menyelipkan sebungkus rokok pada Tas Sopian. Saat lonceng masuk akan berbunyi jumadi berpura – pura menyuruh teman nya untuk melaporkan dirinya jika ia ketahuan merokok.

Tak beberapa lama bel masuk kelas pun berbunyi, ketika Pak subai masuk ia langsung memanggil Jumadi ke depan kelas dan mengintrogasi nya. Jumadi menyangkal tuduhan tersebut ia tidak terima kalau ia di tuduh merokok. Dan teman – teman jumadi yang telah berkomplotpun berteriak – teriak untuk melakukan pemeriksaan. Akhirnya pemeriksaan pun di lakukan.

Betapa terkejutnya seisi ruangan ketika sebungkus rokok di temukan pada tas Sopian, kecuali komplotan jumadi dengan sunggingan senyum penuh kemenangan mereka puas karena telah berhasil mengerjai sopian. Sang Paman pun di panggil pihak sekolah kemudian di beri tahu perihal keponakan nya. Sang paman terkejut dan sangat murka pada Sopian.

Suatu saat Jumadi sadar dengan perilaku nya karena kebaikan sopian yang menolong Jumadi saat di keroyok 2 orang preman yang akan memalak nya. Jumadi pun memberitahukan dengan cs nya kalau ia sudah tidak mau memusuhi sopian. Bahkan Jumadi meminta maaf kepada sopian dengan sikap nya selama ini, ia juga memberikan pengakuan baik kepada guru dan sopian bahwa yang mengerjai nya selama ini termasuk kasus merokok beberapa minggu lalu adalah dia. Dan semenjak itu mereka tidak pernah bermusuhan, mereka saling bersahabat dan saling mengisi satu sama lain.

Jadwal hari – hari sopian sangat padat pagi ia sekolah, siang ia bekerja sebagai pemulung hingga sore, jika malam ia sudah lelah dan tertidur pulas, waktu nya untuk belajar sangat sempit sehingga nilai semester nya merosot jauh ia mendapat peringkat paling bawah. Dengan masalah tersebut ia terancam tidak lulus dari ujian akhir nanti.sopian sangat pusing dengan persoalan yang ia merasa tak sanggup menghadapi.Untung ia ingat dengan guru nya  yang kharismatik Pak Mul namanya atau biasa di panggil Ustd Mulyadi. Sopian meminta saran pada nya dan pak mul dengan antusias memberikan resep belajar yang produktif  pada sopian. dan saat itu juga sopian sedikit merubah jadwal keseharian nya sehingga tidak heran begitu UAN ia lulus dengan peringkat nomor satu dari sekolah nya dan no 3 se Kabupaten. Dan yang lebih membuat ia bersyukur ia mendapatkan beasiswa dari pemerintah untuk melanjutkan jenjang sekolah yang lebih tinggi. Semua orang merasa sangat terharu atas prestasi yang ia dapatkan dari jerih payah nya.

Di tengah – tengah gemilang dan sukses nya sopian, diam –  diam ada salah seorang teman wanita sopian yang bersimpati, bahkan rasa simpati itu lebih dari sekedar simpati. Dewi Rahmatul Aini itulah nama gadis manis berkerudung yang diam – diam menyimpan rasa ….pada Sopian. Dewi kagum dengan pribadi sopian ia akhirnya berbagi hati dengan salah seorang teman nya. Lewat teman nya tersebut ia mengirimkan sepucuk surat ungkapan hati pada sopian. Sopian ang seumur hidup nya yang tidak pernah mengenal cinta – cintaan terkesima dengan ungkapan hati Dewi yang ia kenal baik dan cantik. Walau dalam hati nya ia kagum dan menyukai sang dewi dengan kata lain ia juga mencintai nya, namun ia segera sadar dengan tujuan yang sesungguhnya ia kejar hingga ia bersusah payah bekerja sambil sekolah. Ia merasa perjuangan nya sudah setengah jalan ia tidak mau perjuangan tersebut gagal begitu saja karena urusan cinta apalagi ia masih SMP.

Sopian kemudian membalas surat tersebut dan di dalam surat tersebut ia memberi alasan tidak mau bercinta dengan cerita jujur apa yang ia alami dan apa yang ingin ia raih selama ini. Suratpun di baca oleh sang Dewi, dengan rasa haru bercampur baur Dewi membaca isi surat Sopian. Ia merasa bahwa diri nya selama ini tidak ada apa apa nya di banding sopian yang selalu berjuang walau dalam keterbatasan. Ia yang hidup berkecukupan selama ini merasa tidak berarti jika di banding dengan perjuangan Sopian. Dewi menghargai penolakan halus sopian, namun dalam hati ia tetap bersimpati dan menerima tawaran persahabatan yang di tuangankan dalam isi surat sopian. Dengan adanya Surat sopoian justru ia lebih sadar dengan arti hidup yang sesungguhnya hidup ini bukan hanya untuk kesenangan semata. Dalam surat Sopian di ungkapkan bahwa Rasa C I N T A yang sesungguhnya adalah “CAPAI IMPIAN DAN CITA – CITA”.

SCENE  FORMATION

Fade IN ; Scene 1 : ext : gang mente 2 ][ ( VO : Voice over ) ][ act : Sopian

“ Namaku sopian, biasa orang memanggilku pian, aku terlahir dari keluarga yang tidak mampu, namun itu tidak menyurutkan niatku untuk mengejar cita – cita. Kisahku berawal pada saat usiaku beranjak 15 tahun, saat aku masih di bangku smp kelas 3 ayahku meniggal,  dua minggu kemudian aku pindah ke kota bersama pamanku untuk melanjutkan sekolah. dari sini lah kisah ku bermula”.

Establishing shot :

Suasana kota yang hingar bingar dengan berbagai kegiatan. Tampak di terminal ramai dengan para penumpang yang baru datang dari berbagai daerah. Terlihat seorang anak yang berusia sekitar 15 tahun keluar dari pintu bis dengan mencangklong tas.

Cut to ; Scene 2 :  ext : terminal ][ act : ( Sopian dan orang di terminal )

Sambil merogoh amplop yang lusuh dengan bertuliskan sebuah alamat Ia bertanya pada setiap orang yang ia temui setelah beberapa kali bertanya akhirnya ia menuju alamt yang di maksud.

Cut to ; Scene 3 : ext : rumah  ][ act :  ( paman, dan bibi sopian )

Sementara di satu gang yang kecil terdapat satu rumah kontrakan yang sederhana di sana hidup 1 keluarga yaitu paman Sopian dan keluarga nya yang terdiri dari 1 orang anak dan istri nya. terlihat paman sopian akan berangkat kerja dengan membawa karung dan alat mulung.

Cat to ; Scane 4:  ext : depan gang ][ act : (paman, dan bibi sopian )

Terlihat bibi sopian di teras depan rumah sementara paman sopian beranjak keluar dari rumah nya. Tidak sengaja pandangan sang bibi melihat ke Gg depan yang tidak terlalu jauh dari rumah nya. Dan ia terkejut melihat seorang anak lelaki dengan mencngklong tas sambil membawa secarik amplop dan membaca nya beberapa kali dan mencocokan nya dengan plang. Sang bibi pun langsung memanggil suami nya.

Cut to ; Scane 5 : ext : teras rumah ][:  act : (paman, dan bibi  serta sopian )

Bibi                         :“ O pak – pak, orang yang di depan gang itu bah kaya si sopian ….!”.  ( setengah berteriak )

Paman                    :“ mane … mane ”.  ( penasaran sambil bergegas melihat ke arah jalan)

Bibi                         :“ yan …..pian …….!” ( teriak sang bibi sambil melambaikan tangan ke arah pian, sementara

Sang paman bergegas menghampiri sopian ).

Cut to ; Scene 6 : ext : jalan gang   ][  act : (dialog  paman & sopian )

Sang paman memeluk sopian dengan erat karena sudah lama tidak bertemu.

Paman                    :“ngape kau datang adak mberi kabar dolok te nong …nong…!”.  (sambil melepaskan pelukan nya)

Sopian                    :“gemane ye aku mendadak bah  cik…..!”.   ( ucap sopian dengan wajah tanang )

Paman                    :“ndak ape pasal te ?”.  ( tanya sang paman penasaran )

Sopian                    :“heh ….cerite nye panjang cik ….”. ( sambil melenguh )

Paman                    :“udaham mon gian nanti kite cerite di rumah jak, itu a mak cik kau udah nunggu”. ( sambil menunjuk ke arah bibi yang

duduk di depan teras ). Ke dua nya berjalan beriringan menuju kerumah.

Fade out ; Scene 7 ; ext : teras  ][ act : ( Bibi paman dan sopian )

Sopian dan paman nya sudah di depan rumah, sang bibi menyambut nya dengan riang gembira.

Bibi                         :“Alah maak kau te udah besak am ye nong  “.(sambil mengusap kepala sopian setengah gemes )

Sopian                    :“ jelaslah mak cik kan udah lama ndak pernah ke kampung jadi kan banyak perubahan ”. ( ucap sopian sambil mencium

tangan bibi nya ). Bergegas mereka bertiga membawa masuk keponakan nya ke dalam rumah.

Fade in ; Scene 8 : ext : dalam rumah  ][ act : ( sopian, paman, dan bibi )

Beberapa hari sudah, sopian tinggal di rumah paman nya, hari ke dua ia sudah melaksankan kegiatan mulung bersama paman nya. Ia masih belum berani mengutarakan maksud nya untuk melanjutkan sekolah.

Cut to ; Scene 9 ; ext / int : dalam rumah teras ][ act : ( sopian, paman, dan bibi )

Di dalam rumah yang sempit tersebut sopian meletakkan baju mulung nya dalam bak cuci setelah itu ia ke belakang dan membasuh wajah nya. Tak lama ia pun kembali ke teras, di sana sang paman sedang duduk tersandar menikmati rokok kretek nya.

Paman                    : “ yan …“.  ( sambil menghidupkan rokok )

Sopian                    : “ iye cik !”

Paman                    : “ ape kau ndak kepengen kerje yang lebih ringan dari ini …”.  (sambil menghisap

rokok  nya dengan kepulan asap kental )

Sopian                    : “ ndak mah cik bagi saye tak masalah yang penting saye ….( ragu ) “.

Paman                    : “ yang penting ape ….omongkan am “. ( penasaran )

Sopian                    : “ saye bise tetap sambil bersekolah”.

Paman                    : “ ape ?… sekolah ?.. alah nong..nong kau ni adak pake nyadar, dengan keadaan sekarang jak ,

hidop kite ni untuk makan jak susah, maseh gak maok bereragam “.

Sang bibi keluar dari dalam rumah dan langsung nimbrung pembicaraan.

Bibi                         : “ aok bujor kate pak cik kau tu, bagos kau berhenti jak lah sekolah, agik pun pak cik dan mak cik

kau tidak punye biaye untuk nyekolahkan kau”.

Sopian    : Tapi ….( belum selesai ia bicara sudah di potong pama nya )

Paman                    : “ ehh. ndak ade tapi tapi an, bagus kau kerje dengan pak cik,dapat duit bise kau kirim ke umak kau

di kampung “ ( ucap sang paman agak ketus sambil bergegas pergi dan menyambar karung serta alat mulung nya).

Wajah Sopian terlihat kecewa ia diam sambil menunduk kan wajah nya

Bibi                         : ituam ….yan,  paman kau tu adak suke di bantah, ….. ( ucap sang bibi sambil bergegas

meninggalkan sopian termenung sendiri di depan teras).

Cut to ; Scene 10 ; ext : teras  ][  act ; (Sopian)

Sopian termenung beberapa saat lama nya di depan teras rumah,  ia galau gundah dan resah mata nya merem melek sambil sesekali menghembuskan nafas panjang. ia merasa tidak ada arti nya datang ke tempat paman nya jika ia tidak bisa melanjutkan sekolah. namun bagaimana bisa sedangkan sang paman hidup nya saja susah. Tak beberapa lama wajah nya berseri ia seakan – akan menemukan sesuatu yang ia cari – cari. Sambil mengangguk – angguk dan tersenyum ia pandangi langit yang begitu cerah. Sambil berucap dalam hati :

(VO=voice over ) : “ iye ye sip , aku pasti bise sekolah, aku yakin dengan begitu aku akan di izinkan sekolah same pak cik dan mak cik”

Cut to ; Scene 11 ; ext ; jalan ujung kub cina ][  act : (Paman sopian dan kawan mulung : kiman)

Dari salah satu sudut jalan terlihat dua orang yang sedang berteduh di bawah pohon akasia dengan membawa karung yang satu masih kosong dan satu nya lagi sudah berisi mereka terlibat dalam dialog yang hangat:

Kiman                     : wai sayanglah mat, biak tu kan punye niat bagos masih maok sekolah, pakal jak anakku adak maok

sekolah. ( ucap kiman teman mulung paman sopian bersemangat sambil ia berkipas – kipas dengan topi nya ).

Paman                    :“aok bagos mang… tapi mun kehidupan ku jak kayak gini gimane aku bise ngasik biaye sekolah    untuk die….”.            (jawab paman sopian datar).

Kiman                     :”gini bah mat bukan aku ngguruek kau ye….dan akupun sebelom nye minta maaf, kau kan belom ade anak nah jadi die itu anggap jak anak kau sorang, teros die kau sekolahkan jak bah siape tahu die nanti jadi orang berhasel  dan hidopnye mapan, kaupun bise tetolong gak. Tapi kalau kau adak nyekolahkan die aok hidop nye macem kite gini am selama nye”. (ucap kiman santai sambil menghisap rokok nya ).

Paman                    :” alaaah itukan teori, yang jelas sekarang kite kerje jak,  dari pade ngomong yang adak bemutu”.      (bergegas paman sopian bangkit dan meraih karung serta alat mulung nya).

Cut to ; Scene 12 ; ext ; jalan ujung kub cina ][  act : (Paman sopian dan kawan mulung,  kiman)

Akhirnya mereka melanjutkan perburuan nya kembali untuk mengais rezeki dari barang – barang yang telah tidak terpakai untuk di jual dan akhirnya di daur ulang.

Cut to ; Scene 13 ; ext  jalan kuburan cina ][  act : ( paman )

Sambil memulung diam – diam paman sopian berfikir tentang apa yang barusan di katakan oleh teman nya kiman, ia tidak bisa membayangkan apa jadi nya jika ia sudah tua nanti tidak ada yang mengurus nya. tiba – tiba ia terbayang dengan wajah keponakan nya saat dulu masih SD kelas 5 ia pernah bertanya pada nya jika nanti sudah besar mau jadi apa, maka dengan semangat nya sang keponakan menjawab bahwa ia ingin menjadi seorang  Penulis. Seketika ia tersedar dari lamunan karena tersandung kayu, wajah nya bersungut – sungut dan gelisah. ( Flash Back + VO = voice over)

Cut to ; Scene  14 ; ext ; teras rumah ][  act : (sopian dan paman )

Keesokan hari sopian mendekati paman atau yang bisa ia panggil pak cik tersebut. Pak sick nya sedang asyik menikmati kopi hangat dan rokok kretek. Beberapa saat ia hanya diam ia tidak berani berbicara pada pak cik  nya yang agak galak itu. Setelah lama di tunggu akhirnya ia memutuskan untuk membuka pembicaraan.

Sopian                    : “ pak cik “. ( agak ragu )

Paman                    : “ he,  ngape ? “   (cuek bebek )

Sopian                    : “ saye mau ngomong “. ( agak ragu )

Paman                    : “ ngomongam ?“.  ( cuek dan datar )

Sopian                    : “gini pak cik saye bise mah membagi waktu untuk sekolah dan bekerje. Soal nye siang hari lepas

balek sekolah masih ade waktu”. ( ungkap sopian menerangkan ).

Paman                    : “ bujure kau mampu membagi waktu kau  ?. “    ( serius )

Sopian                    : “ sunggoh cik saye insyaallah bise membagi waktu “. ( sungguh – sungguh )

Paman                    : “ aok kalau itu udah keputusan kau bah terserah pak cik kau tinggal ngaminkan”.

Sopian                    : “ bujo re cik ?, saye  boleh sekolah “. ( seakan tidak percaya )

Paman                    : “ iye , boleh – boleh. Hari ini juga pak cik akan uruskan sekolah”. ( bersungguh – sungguh )

Sopian                    : “ makasih ye cik akhirnye saye bise sekolah agik “. ( sambil mencium tangan pak cik)

Cut to ; Scene 15  ext ; teras ][ act : ( bibi sopian dan paman )

bibi sopian datang dari belanja melihat sopian dan paman nya sedang membicarakan masalah sekolah.

Bibi                         : “ eh jadi ke kau sekolah ? ”.

Sopian                    : “ alhamdulillah cik setelah pak cik mberi saye kelonggaran saya insyaallah akan bise sekolah lagi”.

Bibi                         : “ tapi cemane pula urusan pindah sekolah kau?”.    ( mendesak )

Sopian                    :  “ itu lah cik hari ini juga pak cik dan saye maok nguros nye “.

Paman                    : “ udahlah mak, usah banyak tanya, cepat masak sana kamek ni udah lapar”. ( tukas pak cik )

Tanpa  banyak tanya lagi mak cik pun bergegas masuk.

Cut to ;  ; Scene 16 ext ; teras   ][ act : ( paman / pak cik  dan sopian )

Dengan berpakaian apa ada nya namun rapi mereka pergi ke sekolah sambil membawa surat pindah dan raport yang telah di bawa sopian dari sekolah asal nya.

Paman                    : “bentar ye pak cik pinjam motor dolok ye “. (Sambil bergegas keluar )

Sopian                    : “ iye pak cik “.

Tak beberapa lama sang pamanpun datang dengan mengendarai motor King sopian yang telah siap langsung naik di boncengan motor, dan tak beberapa lama motor king tersebut melesat menyusuri  jalan.

Fade in ; Scene 17  ext/int : halaman sekolah, ruang kantor ][  

Di salah satu jalan terlihat sekolah Madrasah yang di ramaikan oleh siswa yang seang istirahat ada yang sedang menikamti kue jajanan, ada yang bermain dan banyak lagi tingkah mereka yang lain. Mereka begitu bahagia dan ceria dapat menikmati dunia pendidikan. Sekilas sekolah madrasah tersebut tampak sederhana dan biasa – biasa saja, fasilitasnya juga tidak semewah di sekolah umum lain nya, namun demikian tidak akan menyurutkan semangat belajar sang siswa termasuk Sopian sebagai Calon siswa.

Dari simpang jalan tampak 2 orang dengan berboncengan memakai motor king memasuki halaman sekolah madrasah dan memarkir motor. Setelah bertanya dengan siswa akhirnya 2 orang tersebut masuk ke salah satu ruangan kantor.

Cut to ; Scene  18 :  ext / int : halaman  / kantor  ][  act : (Sopian, paman dan Kepala Sekolah)

Di dalam ruang kantor tersebut terjadi dialog yang serius antara paman dan kepala sekolah.

Kep sek                  : “ baiklah kalau begitu mulai besok keponakan bapak  sudah boleh mulai masuk sekolah”.

( tegas ).

Wajah sopian berbinar seakan – akan ia ingin saja mencium kaki kepala sekolah itu.

Paman                    : “makasih banyak ye pak “. (ungkap nya senang  )

Kep sek                 : “ iya sama – sama “.

Paman                    : “kalau begitu kamek  permisi dulu ye pak “. ( berdiri Sambil menjabar tangan kepala sekolah tak

ketingalan juga sopian juga menjabat tangan kep sek tersebut)

Kep sek                 : “ oh iya silahkan “. ( berdiri dan menyambut jabat tangan mereka )

Tak lama kemudian ke duan nya keluar dari ruang kantor dan kembali pulang kerumah nya.

Cut to ; Scene 19 int : dalm rumah  ][  act : Oleh : ( Sopian dan bibi )

Sore hari Dengan tergopoh – gopoh bibi sopian pulang kerumah dan ia mendapati sopian sedang lepas sholat Ashar

Bibi                         : “yan ini mak cik bawakan kau baju sekolah dan tas”. ( sambil menunjukkan pada sopian)

Sopian                    : “ masyaallah, mak cik belikan saye ke  ?”.

Bibi                         : “eh tadak lah , memang duet dari mane mak cik beli nye “.

Sopian                    : “ terus mak cik utang ? “ ( penasaran )

Bibi                         : “ tadi mak cik tu jalan kerumah kawan mak cik, nah anak die tu dah lulos sekolah SMP, baju nye

masih bagus, jadi mak cik minta . ( sungguh – sungguh ).

Sopian                    : “ alhamdulillah, semoge orang yang mberi baju ini dapat berkah dari allah, karene dapat

gak nggantikan baju seragam saye yang udah rusak”. ( sambil mengusap wajah nya dengan ke dua telapak tangan ).

Bibi                         : Amiin  …., dah ini kau simpan ( memberikan buntalan pada sopian )

Sopian meraih buntalan tersebut dan membawanya ke belakang. Mak cik nya memperhatikan sambil memejamkan mata dan menggelengkan kepala kemudian menghela nafas panjang.

Cut to ; Scene 20 int/ext : teras, jalan. ][ act : (Sopian paman dan bibi )

Pagi hari Sopian tampak mengenakan sepatu dan siap untuk berangkat sekolah. tak lupa ia bersalaman pada paman dan bibi nya sambil berpamitan. Dengan mengayuh sepeda ia menuju ke sekolah nya yang berjarak + 3 Km.

Cut to ; Scene 21 ; int/ext : Jalan, halaman ][ act : Sopian

Sopian memasuki halaman sekolah ia mencari cari tempat parkir dan akhirnya ia menemukan juga. Ia letakkan sepeda nya bersama sepeda yang lain. Dengan rasa bahagia dan dada berdebar ia berjalan mencari ruang kelas nya. Dari mulai ia memasuki halaman sekolah hingga ia masuk ke kelas banyak mata yang tertuju pada nya. walaupun agak risih ia tetap saja mencoba santai. Akhirnya ia menemukan ruang kelas nya.

Cut to ; Scene 22 ; Int : ruang kelas ][ act : sopian, Dewi dan Rina dll

Di dalam kelas sudah ada beberapa orang siswa,  sopian mencari cari tempat duduk yang kosong.

Sopian                    : “maaf ape maseh ade tempat duduk kosong ye ?” ( tanya nya dengan hormat pada dua orang

cewek yang dari tadi  memperhatikan nya ).

Dewi                       : “a ..a..ade  kali itu… itu di pojok belakang sebelah kiri ( gugup karena kecele )

Sopian                    : “oohh….makaseh ye “. ( heran )

Dewi                       :” Iye “.  ( singkat )

Sopian meletakkan tas nya di meja yang di tunjuk oleh gadis manis bernama dewi tersebut.

Cut to ; Scene 23 ; int / ext : ruang kelas teras sekolah ][ act : Ibu Wardah, sopian, semua siswa

Bel tanda masuk pun berdenting – denting beberapa kali. Siswa dengan tertib masuk kelas nya masing – masing. Di kelas tiga sopian menjadi pusat perhatian. Tak beberapa lama seorang guru wanita masuk kelas. Setelah mengucapkan salam dan do`a ibu guru tersebut mengabsen murid dan menerangkan jika di kelas mereka ada siswa baru.

Ibu guru                 :“para siswa sekalian alhamdulillah hari ini kalian kedatangan siswa sekalian  akan menjadi teman   baru, bagi kalian semua. Nah jadi seperti biasa, jika ada siswa yang baru sebaik nya maju ke depan dan memperkenalkan diri bagaimana kalian setuju ?”. ( menerangkan dgn logat jawa yang kental )

Siswa                      : “setujuuuuuuu……”. ( serempak )

Ibu guru                 : “ ayo silahkan kamu sini “. ( sambil melambai Sopian ).

Sopian agak bingung ia ragu – ragu antara mau maju kedepan atau tidak.

Siswa                      : maa..ju…! maa..ju…! maa..ju…! maa..ju…! maa..ju ! (serempak )

Dengan sedikit di paksa – paksa oleh teman sebangku akhirnya sopian maju ke depan.

Cut to ; Scene 24 ; int  : ruang kelas   ][ act : Ibu Wardah, sopian, Jumadi, Dewi semua siswa

Dengan sedikit kemalu – maluan sopian mengenalkan diri nya, walau kadang – ada teman nya yang mengejek namun ia tetap terlihat tabah walau sebenar nya malu.

Sopian    : Nama saya Sopian, alamt saya di Jl. Berkat Gg. Payak no 2 asal sekolah saya dari SMP 02 Desa

Menoreh  Kecamatan Simpang Jaya. ( sambil senyam senyum )

Ibu guru                 : baik, kalian ada yang mau bertanya dengan teman baru kita ini ?.

Jumadi                    : (mengacungkan tangan)  begini teman – teman ini hanya sekedar pemberitahuan saja, kalau teman baru kita ini juga sangat rajin bekerja saking rajin nya dia itu memungiti sampah di setiap jalan. (tersenyum puas )

Wajah sopian memerah, ia malu dengan pernyataan Jumadi tersebut.

Dewi                       : “jumadi…., adak pantas ak kau ngomong gitu bah “. (Tukas dewi tidak setuju )

Jumadi                    : “eh suke – suke aku lah” . (cuek)

Siswa                      : “huuuuuuuuuuu…..”( seluruh siswa serempak keculai Jumadi dan CS nya )

Ibu Guru                : “sudah diam, ….diam semua”( menggebrak meja ; semua siswa terdiam beberapa saat lama nya )

Cut to ; Scene 25 ; int  : ruang kelas   ][ act : Ibu Wardah, sopian, Jumadi, hamdan semua siswa

Ibu guru                 : “jumadi…apa maksud kamu berbicara begitu ?”.  ( tegas )

Hamdan                 :  “mungkin yang di maksud Jumadi itu dia bekerja sebagai pemulung bu”. ( sambil mengerlipkan

mata nya dengan Jumadi ).

Ibu guru                 : “kalian berdua jangan kurang ajar ya, memang nya pemulung itu tidak punya hak untuk sekolah, dan apakah kalian berdua sudah lebih baik dari nya ”. ( marah sambil menetap tajam hamdan dan jumadi ; seisi ruang kelas diam )

Ibu guru                 : “ayo kalian berdua maju ke depan”. ( menatap tajam ke pada dua orang siswa nya yang nakal )

Jumadi dan Hamdan berdiri dan ke depan kelas.

Ibu guru                 : “ kalian berdiri kakai sebelah sampai istirahat di pojok sana “ ( marah ; sambil menunjuk ke dekat pintu.

Dengan berat hati Jumadi dan Hamdan menjalani hukuman tersebut.

Ibu guru                 : “sudah yan kamu kembali ke temapt duduk mu”. ( lunak )

Sopian                    : “terima kasih bu”  ( sambil sedikit membungkuk memberikan hormat )

Cut to ; Scene 26 ; int/ext  : ruang kelas  ][ act : Ibu Wardah, Jumadi, hamdan semua siswa

Bel istirahat pun berbunyi dengan di ikuti para siswa nya ibu wardah keluar dari ruang kelas tiga, sementara Jumadi dan hamdan yang telah usai menjalankan hukuman merasa sangat jengkel dan dendam kepada Sopian yang menyebabkan mereka di hukum dan di permalukan di depan kelas.

Jumadi                    :”Kurang ajar biak tu belum tahu die siape kite “ (sambil berjalan menuju bangku nya)

Hamdon                 :”aoook…kelelagaan benar “.  ( sambil duduk di bangku )

Jumadi                    :”gemane coy nantek balek sekolah kite utangkan die ?”. (sambil menepuk meja )

Hamdan                 :“ Eh siape taaakut..!”.

Jumadi                    :” jangan lupa beri tau am dengan kawan kawan kite sekalian”

Hamdan                 : “ Sip, beres boss !…”. ( sambil acungkan jempol )

Cut to ; Scene 27; ext Jl kuburan cina : ][ act : Jumadi, hamdan, dan cs, sopian

Jumadi dan CS nya telah menunggu di persimpangan jalan yang agak sepi. Setelah beberapa saat menunggu mereka melihat sopian tampak dari kejauhan sedang menaiki sepeda nya. beberapa saat kemudian sopian pun tiba. Serentak saja jumadi, hamdan dan ke dua orang teman nya menghadang sopian. sopian yang merasa tidak tahu apa – apa jadi bingung.

Sopian                    : ( heran  dan kebingungan ) Jumadi Cs diam tanpa kata sambil berkacak pinggang.

Sopian                    :” maaf kawan, aku mau lewat “. ( memelas )

Jumadi                    :” eeh kau ni ndak usah banyak bacot, turon kau dari sepeda ”. (tatapan dingin)

Sopian masih saja tidak mau turun dari sepeda nya. jumadi memberi aba – aba kepada ke tiga teman nya untuk memaksa turun sopian. dengan tanpa banyak perlawanan sopian di paksa turun. Ia tak berdaya oleh ke empat orang tersebut.

Jumadi                    :” cepat bawak senek biar aku mberi nye “.

Ke tiga teman juandi sambil memegang kiri dan kanan serta belakang menyeret sopian yang tak berdaya ke hadapan jumadi.

Jumadi                    : “ kau ni …biak baru udah cari perhatian….kau belum kenal dengan  aku e…, aku ni JUMADI pemimpin gang di sekolah, orang yang paling di takuti“. ( sambil menepuk nepuk dada )

Sopian                    : ( wajah ketakutan ) “i.. iye …!”.

Bondan                 : “ee udahm  bos ….beri jak bah biar bejera”. ( bersemangat )

Jumadipun langsung menghantamkan kepalan nya ke perut sopian beberapa kali, sopian meringis menahan sakit namun ia tidak bisa membalas nya. setelah puas menghajar  jumadi menendang dan mengempiskan sepeda sopian, setelah itu ia  dan cs meninggalkan sopian yang meringkut kesakitan.

Cut to ; Scene 28; ext jl kuburan cina :  ][ act : sopian dan dewi

Dengan tertatih – tatih sopian meraih tas dan speda dengan ban yang kempis ia kahirya berjalan menuntun sepeda nya. dari belakang tiba – tiba dewi yang masih pakai seragam sekolah menegur nya.

Dewi                       :” wai yan…!  ngape bejalan te ?”. ( sambil turun dari speda)

Sopian                    :” adak ma bah, ban spedaku te bocor “. ( datar )

Dewi                       :“ terus ngape baju kau macem gian te”. (penasaran)

Sopian                    :“ ndak mah adak ngape – ngape ak, kalau kau mau dolok silekan am “.

Dewi                       :“ Benar e kau adak ape – ape ?”. ( memastikan )

Sopian                    :” iye …aku ndak papemah, kau mau dolok silekan am “.

Dewi                       :“ eh ndak lah kau ku tambah kan jak “. ( sambil memenadang wajah sopian sopian )

( saling berpandangan hingga beberapa saat. Setelah itu dewi yang merasa dulu memendang merasa

tersipu malu )

Sopian                    : udahm yem kite jalan “.  ( sambil tersenyum )

(Sepanjang perjalanan mereka berbincang – bincang, hingga akhirnya mereka berpisah di persimpangan jalan)

Cut to ; Scene 28; int /ext : dalam rumah  :  ][ act : sopian dan Bibi

Terlihat sopian memasuki rumah dan mengucapkan salam.

Sopian                    :“Assalamua`laikum ….”.

Bibi                         :“wa`alaikum salam “.

Sopian masuk dan meletakkan tas nya di meja belajar nya yang sederhana.

Bibi                         :”gemane yan sekolah kau hari ini ?”. ( sambil melipat pakaian )

Sopian                    : “ alhamdulillah macik lancar – lancar jak .“

Bibi                         :“sukor lah, itu a kalau kau mau makan di belakang udah mak cik siapkan (sambil melipat pakaian)

Sopian                    : “iye mak cik “. (sambil menuju ke belakang).

Fade out ; Scene 29 ; int /ext : dalam rumah  :  ][ act : sopian

Siang itu sopian kembali bertugas dengan seragam pemulung nya ia melangkahkan kaki nya keluar rumah dengan menenteng karung dan alat mulung nya. setapak demi setapak, langkah demi langkah ia jalanai dengan sabar untuk mengais rezeki. Sesekali ia menatap langit yang cerah di sana seakan ia menyimpan sebuah harapan dalam cita – cita nya yang besar.

Fade in Scene 30 ; int: ruang kelas :  ][ act : sopian agus

3 Bulan kemudian

Tangan Sopian bergetar memegang buku rapor nya. seakan ia tidak percaya dengan nilai – nilai merah yang tertera. Ia tampak bersedih dengan nilai nya yang anjlok. Sementara teman nya agus mendekati sopian yang terlihat sedih.

Agus                      :” yan kena ape kau te ?, macem gak orang sakit jak “. ( penasaran sambil mendekati sopian ).

Sopian                    :“ adak mah, aku Cuma risau dengan nilai semester ku yang anjlok”. ( kecewa )

Agus                      :” ye  mungkin belajar kau kurang giat kali “. ( sambil duduk di dekat sopian )

Sopian                    : ( sesaat terdiam kemudian mendesah ) “ aku adak ade waktu bah “.

Agus                      :” Iye – ye aku ngerti ma dengan kondisi kau, sabar jak bah ye !! “.  ( menepuk–nepuk bahu sopian)

Sopian                    : (mengangguk sambil mencoba untuk tersenyum )

Cut to ; Scene 31 ; int: ruang kelas :  ][ act : sopian, agus, dewi dan rina

Dua orang gadis yaitu dewi dan rina masuk kelas dengan wajah tidak bersahabat. Dewi memanggil manggil sopian dan memarahi nya.

Dewi                       : ( marah – marah nyerocos sambil mengehempaskan kertas  ) “yan kau ni kurang ajar ape maksud

kau menulis surat kaya gini ?, tak   ku sangke  ye ternyate orang yang selama ini ku anggap baik

rupenye cume topeng jak ”.

Sopian                    : “ndak …ndak ape ni ? “. ( bingung )

Rina                        : “ udahlah jangan pura – pura bodoh, itu bah kau bace sorang”.

Agus                      : “ waduh ini pasti salah oaham ni “ ( juga ikut bingung menenangkan dewi )

Sopian                    : (sopian meraih dan membaca nya mata nya terbelalak ) “ii…ni . Bukan aku yang nulis nye“.

Dewi                       : ( geram ) dasar ..laki – laki ..suke nye pura pura.  ni rasekan am  ( tamparan tangan dewi melayang di wajah sopian, setelah itu dewi dan rina meninggalkan sopian dan agus )

Sopian seakan tidak percaya dengan apa yang terjadi pada nya barusan.

Agus                      : “ adak salah gik im ini pasti kerjaan Jumadi, ee biak tu makin menjadi jak “.

Sopian                    : “ udahlah jangan suudzon same orang”. ( sambil menatap agus )

Agus                      : “ waii kau ni bah, kalau bukan die siape gik ?, awas jak nanti ( sambil memukulkan kepalan tangan

kanan pada telapak kiri  nya )

Sopian                    : “ guus kalau memang benar die yang ngerjekan, biarlah tak usah kite balas, nanti ade mah waktu

nye kite sadar ( sambil berpaling kembali pada agus ).

Agus                      : (menggeleng – gelengkan kepala dan mendesah ) .. “payah ikot sifat nabi nin “.

Cut to ; Scene 32 ; int: ruang kelas :  ][ act : Pak guru, sopian, dewi, Jumadi dan siswa)

Pak Mul menerangkan pelajaran Aqidah akhlaq dan ia menyudahi nya dengan membuka pertanyaan dari para siswa.

Pak mul                 : “ bagaimana apa di antara kalian ada yang mau bertanya tentang materi kita hari ini ?”.

Agus                      : “ ( mengacungkan tangan ) saya pak …!

Pak mul                 : “ ya silahkan …!”

Agus                      : “ bapak tadi menerangkan jika fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan, nah sekarang misal nya di kelas ini ada seorang tukang fitnah, jadi apa kira – kira tindakan yang mesti kita lakukan ?”.

Jumadi                    : “maksud pertanyaanmu itu ape gus  ?”. ( tiba – tiba nyeletuk sambil berdiri )

Pak mul                  : “sudah jangan ribut…., bapak akan coba jawab, ya kalau ada teman kita yang melakukan pemfitnahan sebaiknya kita sadarkan kalau itu tidak baik. Bagaimana ada lagi yang bertanya ?  “.

Dewi                       : ( mengacungkan tangan ) say pak ..!

Pak mul                  : ya silahkan ..!

Dewi                       : Bapak tadi juga menerangkan tentang sifat tercela, nah sekarang jika ada orang yang merendahkan martabat seorang perempuan apakah itu perbutan tercela atau tidak ? dan apa yang harus kita lakukan pak ?

Jumadi                    : “harus nya ya di hajar,  bagaimana, setuju tidak teman teman ?

Siswa                      : setujuuuuuuuuu ….! ( kecuali sopian dan agus. Agus hanya bisa tertunduk sambil beristighfar )

Pak mul                  : Sebagai umat yang beriman kita tidak boleh menghakimi perkara sendiri, semua ada ketentuan bya ,nah kita prosedur ketentuan nya, ya lewat Quran dan hadist”.

Jumadi                    : “tapi pak …….“.  ( belum selesai bicara di putus agus)

Agus                      : “jumadi ….aku rasa orang yang seharus nye di hajar itu adalah kau “. ( geram )

Jumadi                    : “ eh kurang ajar kau ye “. ( berdiri mendatangi agus )

Pak mulyadi           : “ masyaallah …kalian jangan ribut.   jumadi.. kamu kembali tempat duduk “.

Jumadi duduk sambil geram dan murka ia mengepal tangan dan meninjukan pada telapak kiri nya.

Cut to ; Scene 33 ext : Jalan ][ act : Jumadi &  cs

Terik matahari siang itu benar – benar membakar tubuh, terlihat tepi jalan di bawah kayu akasia 4 orang sedang berdialog, mereka adalah Jumadi CS.

Jumadi                    :” memang kurang ajar biak itu !….”.  ( jengkel )

Hamdan                 : “ ituam rencane kite yang tadi te bah, kite jalankan “.

Bondan                 : “ benar bos, besok boleh am kite kerjekan “.

Anang                    : ( manggut – manggut ) setuju, besok boleh kite beraksi…!” ( tegas )

Jumadi terdiam seakan ada yang ia  pikirkan

Hamdan                 : “Gimene bos  ? “.

Jumadi                    : (sambil manggut – manggut ) boleh.

Cut to ; Scene 33; Montage Shot ; ext/int  : kelas dan teras ][ act : Jumadi & cs

Keesokan hari nya saat istirahat tiba tampak Jumadi dan Bondan keluar masuk kelas beberapa kali, tampak nya mereka memastikan keadaan.

Bondan                 :” sip aman bos “ (berdiri di tepi pintu sambil clingak clinguk )

Jumadi                    : ( mengendap endap – endap mendekati meja sopian dan memasukkan sesuatu ke tas nya, setelah

itu ia keluar bersama bondan menemui hamdani).

Jumadi                    : “ beres dah…sekarang kau pegi ke kantor gim …“.

Hamdani                : ( ia pun mengacungkan jempol sambil bilang “sip” kemudian bergegas ke Kantor).

Cut to ; Scene 34;int  : kelas ][ act : pak mul ,  Jumadi & cs, siswa

Hari ini wajah pak mul agak berbeda ia seperti murka dengan seseorang ini tampak saat ia memesuki ruang kelas ia langsung memeanggil Jumadi.

Pak mul                 : “ Jumadi, coba kamu ke sini “. ( sambil menatap bondan dengan mata nanar )

Jumadi                    : ( bingung ) a.. a ada apa pak ?”

Pak Mul                 : “ sudah jangan banyak tanya sini kamu “. ( sambil berdiri dan  Jumadi akhirnya ke depan )

Pak Mul                 : “ menurut laporan salah seorang siswa kamu tadi merokok di WC ya”.

Jumadi                    : “ Tidak ada pak, bapak boleh tanya saja dengan teman – teman saya Bondan dan hamdan“.

Hamdan                 : “ Iya pak benar pak dia tadi bersama kami….”. (tukas nya)

Bondan                 : “ begini saja pak, untuk membuktikan, bagaimana kalau kita adakan Razia saja pak ?”.

Pak Mul                 : “ Baik saya setuju, saya harap kalian semua jangan bergerak dari tempat duduk” . ( pak mul berdiri

dan memeriksa senua tas siswa )

Cut to ; Scene 34;int  : kelas ][ act : pak mul ,  Jumadi & cs, siswa, sopian

Satu persatu ia periksa akhir nya tiba pada giliran tas siopian. Sedangkan Sopian tenang – tenang saja.

Pak mul                 : ( Terkejut melihat sebungkus rokok ada pada Tas Sopian )…”ini apa yan ?” (sambil menunjukkan)

Sopian                    : ( kaget dan bingung )  “sss….. saya bukan punya saya”.

Pak mul                 : “sudah jangan banyak membantah ayo kamu ikut Bapak “. (Sambil menggelandang sopian keluar)

Sopian                    : “ pak ampuun pak …bukan saya pak “.( telinganya dalam keadaan di gelandang pak Mul keluar

menuju lapangan ).

Pak Mul                 :” kamu ini  …sudah terbukti masih membantah… itu, kamu  lihat bendera berkibar itu …apa kamu

Menghargai nya ?, bendera itu di dapatkan dengan tetesan darah dan perjuangan, sementara kamu ,

sekolah saja elek – elekan ”. ( marah – marah )

(sementara Sopian terdiam sambil menunduk takut dengan kemarahan pak mul sedangkan para siswa yang lain ikut keluar menyaksikan nya  di antara siswa tersebut terlihat Jumadi tersenyum puas sambil berucap “ heh…rase kau “.)

Pak Mul                 :” sudah, ….sekarang kamu hormat di depan bendera sampai pulang…  (sambil membalikkan

tubuh, dan ia melihat siswa yang lain memperhatikan. pak mulpun membentak) “ apa yang kalian

lihat ?. …ayo masuk”. ( melangkah ke kelas ).

Cut to ; Scene 35 ;Int/ext : teras – ruang kantor ][ act : ( sopian dan agus )

Bel pulang sekolah berbunyi para siswa berhamburan keluar dari kelas di ikuti pak mul. Sementara sopian yang tampak lelah masih hormat di depan bendera. Dan Jumadi serta Cs mengejek – ejek sopian, Salah seorang dari siswa tersebut mendekati dan memapah nya.

Agus                      :” yan yem kite balek “. ( sambil menarik sopian )

Sopian                    : ( menuruti agus dengan langkah gontai)

Agus                      :“ eh…sidak ni memang keterlaluan“. (geram,)

Cut to ; Scene 36; ext : Jalan simpang 3 kuburan cina ][ Act : ( Sopian, Jumadi, dan 2 orang preman )

Waktu menunjukan pukul setengah 2 siang, matahari masih terasa membakar tubuh namun hal itu tidak menyurutkan semangat Sopian mengais Rezeki. Di tengah – tengah ke asyikan nya memulung ia melihat 3 orang seusia nya dari jauh sedang mengeroyok seseorang yang seperti nya ia kenal. Ia terkejut melihat teman nya Jumadi yang selama ini dzalim pada nya sedang di keroyok. Sempat ada perang batin beberapa saat, namun akhirnya ia memutuskan untuk menolong Jumadi. Dengan gerakan reflek ia meletakkan karung dan alat mulung kemudian menantang 2 preman yang sedang menghajar jumadi.

Sopian                    :” he ….kalau berani jangan main keroyok, ayo dengan ku jak… !”

Preman 1                : “ alahh keciil “. ( sambil meremehkan )

Preman 2                :” yem kite tale sekali “ ( ke dua nya maju sambil melancarkan pukulan )

2 preman itu berpaling dan sesumbar, setelah itu mereka langsung melancarkan pukulan nya pada sopian.

namun sopian yang dulu nya pernah belajar silat itu merasa gampang menhadapi 2 preman gadungan tersebut. Dengan sedikit tangkisan dan pukulan maka seketika itu juga 2 preman itu roboh dan lari terbirit – birit.

Sopian                    : “heh…dasar preman gadungan” ( sambil menepis baju nya kiri dan kanan)

Cut to ; Scene 37; ext : Jalan simpang 3 kuburan cina ][ Act : ( Sopian dan Jumadi)

Sementara Jumadi yang kesakitan merasa malu dan salah tingkah dengan sopian, sopian yang selama ini ia dzalimi ternyata berhati permata ia benar – benar merasa berdosa. Sementara Sopian yang merasa di musuhi jumadi meraih karung dan beranjak pergi meninggalkan jumadi.

Jumadi                    : “Yan tunggu lok “. (Setengah berteriak )

Sopian                    : ( berhenti dan menoleh ke arah Jumadi ).

Jumadi                    : ( bangkit mendekati sopian dan memeluk nya erat – erat ).”aku minta maaf ye yan, selama ini aku telah banyak berbuat

salah dengan kau .” ( sambil menangis )

Sopian                    : “dahlah di, ku maafkan mah”. ( sambil menepuk – nepuk punggung jumadi )

Jumadi                    : “ tapi aku udah banyak salah dengan kau, yem kite duduk, ku ceritakan !”. ( melepaskan pelukan)

Cut to + flash back ; Scene 38; ext : Jalan simpang 3 kuburan cina ][ Act : ( Sopian dan Jumadi)

Jumadi lalu menceritakan semua kejahilan nya  pada sopian termasuk masalah rokok dan dewi yang marah – marah pada Sopian.

Jumadi                    : “begitulah cerite nye yan “.  (menunduk dan mendesah )

Sopian                    : “ dahlah di yang udah terjadi biarkan am “. ( sambil menarik nafas )

Jumadi                    : “ untuk nebos kesalahan ku, aku janji mbuat name baek kau bagus agik “.

Sopian                    : ( hanya manggut – manggut sambil tersenyum ke arah jumadi).

Cut to ; Scene 39; Int/Ext : rumah sopain dan jalan ][ Act : ( Sopian dan Jumadi Cs )

Suasana pagi yang indah dengan semburat matahari kuning keemasan bertengger di ufuk timur, tetesan – tetesan embun menguap terbang ke angkasa.  Pagi itu saat sopian akan berangkat sekolah agak terkejut karena Jumadi dan CS nya telah menunggu di depan rumah.

Jumadi                    : “yan yem kite besaing “. ( teriak jumadi dari jalan)

Sopian                    : ( sedang mengenakan sepatu ) “iye ye bentar dolok”.

Mereka lalu bersama – sama pergi kesekolah dengan tawa penuh ceria dan kebahagiaan.

Cut to ; Scene 40; Int/Ext : sekolah / kelas ][ Act : (Jumadi pak mul dan siswa)

Suasana kelas yang cukup tenang hari itu Pak Mul kembali masuk dengan mata Pelajaran Aqidah akhlaq. Dengan ucapan salam dan hormat dari siswa kemudian Pak Mul membuka materi pelajaran.

Pak mul                  : Ya baik para siswa sekalian sebelum kita melangkah pada Bab yang baru apa di antara kalian ada yang mau bertanya tentang pelajaran sebelumnya ? (sambil membuka- buka lembaran buku).

( sesaat para siswa terdiam sesaat…..tapi tiba – tiba Jumadi mengangkat tangan dan berdiri ).

Pak Mul                 :  ( sesaat memandang Jumadi penuh tanya ) “Ya, Jumadi silahkan !”.

Jumadi                    : pak izinkan saya maju ke depan untuk menyampaikan seseuatu yang penting (masih berdiri )

Pak Mul                 : ( sesaat terdiam heran sambil mengerinyitkan dahi nya ) “ya boleh – boleh “ .

Jumadi                    : ( dengan langkah pasti dan di ikuti keheranan seluruh siswa, jumadi ke depan kelas tak terkeculai juga dengan sopian. Sesaat suasana kelas begitu sepi, semua orang menunggu apa yang akan di katakan jumadi ). “ saya akan berkata sejujur nya tentang saya dan apa yang telah saya perbuat selama ini terhadap orang yang selama ini saya dzalimi. Baik lah langsung saja saya jelaskan siapa orang itu. Orang itu….. adalah …..Sopian. dia bukan orang jahat tapi dia adalah korban kenakalan saya dan dia kemarin telah menolong saya sehingga saya baru sadar dengan apa yang telah sayu lakukan dengan nya.  untuk itu saya minta maaf terhadap Sopian, Pak guru dan teman semua, demikianlah pengakuan saya terima kasih”. ( jumadi kemudian langsung kembali ke tempat duduk dengan wajah yang lebih tenang ).

Cut to ; Scene 41; Int/Ext : sekolah / kelas  ][ Act : (Jumadi pak mul dan siswa)

Kembali suasana hening, masing – masing berkecamuk kata tak menetu dalam fikiran tentang apa yang di sampaikan jumadi. Sementara pak mul mengerinyitkan dahi nya dan menganggug – angguk.

Pak Mul                 : “. Alhamdulillah …, bapak merasa terharu dengan apa yang di sampaikan Jumadi tadi. sungguh

…sikap yang ksatria. Nah untuk peresmian nya bapak persilahkan antara Sopian dan Jumadi untuk maju ke depan, ayo silahkan ”. ( Jumadi berdiri dan berjalan menuju tempat duduk sopian kemudian mengajak nya  ke depan kelas).

Pak Mul                 : “ Ya silahkan kalian bersalaman dan berpelukan “. ( sambil memberi aba – aba, sementara  jumadi

dan sopian saling berhadapan dan salam serta berpelukan beberapa saat ).

Pak Mul                 : “mari, tepuk tangan untuk persahabatan mereka”. ( sambil bertepuk tangan dan di ikuti siswa )

Cut to ; Scene 42; eks : ][ teras sekolah : act : (Agus Sopian Dan Dewi)

Saat istirahat Sopian memilih di teras bersama agus duduk di bangku panjang.  tiba – tiba Dewi datang dengan wajah yang lebih bersahabt dari sebelum nya.

Dewi                       : ( tampak kikuk dengan apa yang akan ia bicarakan)

Agus                      : “e dahlah aku pegi dolok dari pade nganggu”. ( meledek sambil ngeluyur pergi)

Sopian                    :“wai gus mau kemane kate nye mau nambahkan aku ngagak pak mul”.

Agus                      :”dah lah nanti jak “. ( sambil terus meninggalkan sopian dan dewi )

Dewi                       : “ yan “. ( ragu sambil duduk dekat sopian )

Sopian                    : ( sopian bergeser dari tempat duduk nya sambil mendesah panjang)

Dewi                       : “ngape yan, kau masih marah ke ?”. ( nada agak tinggi sambil memandang sopiyan)

Sopian                    : “ eh adak ak, sungguh, aku ndak pernah marah dengan kau”. ( datar )

Dewi                       : “ terus ngape kau begeser dari tempat dudok ?? “. ( mendesak )

Sopian                    : “ Ooh.. itu…, Kan kite bukan Muhrim, jadi usah dekat- dekat, kate pak ustadz nanti bise konslet”.

Dewi                      : ( memalingkan wajah sambil tersenyum mendengar jawaban sopian yang polos dan diplomatis )

Falash back + Fade out ; Scene 43; Int/Ext : Sekolah / Masjid ][ Act : (sopian & pak mul)

Istirahat ke dua para siswa sholat di masjid kompleks sekolah. dengan bergiliran mereka berwudhlu dan kemudian masuk ke masjid. Seperti biasa nya Ustadz Hadliri sebagai imam sholat. Setelah usai solat Sopian mendatangi pak mul yang telah usai Do`a.

Sopian    : ( mencium tangan ) pak maaf saya mau bicara sebentar

Pak Mul                 : “boleh”.  ( jawab nya singkat. Sopian lalu menceritakan prihal halangan nya tentang kemerosotan

nya dalam ulangan dan tidak ada waktu untuk belajar ) + ( flash back)

Pak Mul                 : ( mengangguk – angguk tanda memahami, sebentar kemudian ia menghela nafas dan menpuk

nepuk punggung sopian ) “ sungguh mulia sekali kamu yan, semoga kamu menjadi orang yang

berhasil………. ( kembali pak mul mendesah ) baiklah bapak akan memberikan resep belajar

sukses untuk mu. ( kembali pak mul mengerinyitkan dahi seakan mengingat sesuatu ).

Pak Mul                 : “ belajarlah kau di saat seperempat malam orang masih terlelap tidur, kalau dapat seblumnya kau

solat tahajjud dan berdo`a dulu, maka insyaallah dengan demikian kau akan mendapatkan kecerahan berfikir”.

Sopian                    : (tersenyum ) “baik pak insyaallah akan saya amalkan, do akan semoga saya berhasil ya pak“.

Pak Mul                 : “Amiin. Ayo kita ke sekolah sebentar lagi kita kan masuk ( sambil berdiri )

Fade in ; Scene 44; int : ruang kelas ][ Act : (pak guru, sopian, dan siswa)

5 Bulan Kemudian

Hari itu adalah hari pengumuman kelulusan siswa kelas tiga setiap siswa berdebar – debar dengan apa yang akan terjadi pada diri nya karena beberapa detik lagi pak Mul selaku wali kelas telah siap dengan pengumuman yang telah di bawa nya. suasana kelas di cekam kesunyian tiada suara, yang ada hanya detak jantung yang semakin terpacu manakala waktu itu sudah dekat.

Pak mul : bapak sangat bangga kepada kalian semua kalian bisa mengukir prestasi dengan gemilang, dan yang paling bapak banggakan sekali adalah salah seorang di antara kalian yaitu ….Sopian. untuk sopain bapak persilahkan untuk maju. ( sopian pun maju semua siswa pandangan nya tertuju pada sopian ).

Pak mul : “sopian, bapak ucapkan selamat, kamu lulus dengan nilai baik no 2 se kabupaten, dan kamu mendapatkan beasiswa dari pemerintah untuk melanjutkan sekolah ke SMU.

Sopian    : (dengan reflek sopian langsung tersungkur di lantai untuk sujud syukur. Isak tangis nya membuat teman – teman nya  yang lain ikut merasa haru bercampur bahagia. Tanpa sadar pak mul juga ikut meneteskan air mata tanda kebahagiaan yang menleimuti nya ).

Scene 45 Int : Rumah sopian ][ act : ( sopian, agus)

Siang itu seperti biasa sopian beranjak dari rumah nya dengan membawa karung untuk melakukan kegiatan nya sehari – hari sebagai pemulung. Tiba – tiba dari belakang agus berteriak memanggilnya.

Agus                      : “Yan………..”. ( berteriak )

Sopian                    : ( berhenti dan menoleh )

Agus                      : “ ini ade titipan surat dari dewi untuk kau “. ( sambil memberikan surat kepada sopain )

Sopian                    : ( menerima surat dengan penuh tanda tanya )

Agus                      : “daham ye aku maok maen bola lok”. ( sambil berlalu pergi dengan sepeda treal nya )

Sopian                    :”eh makaseh ye “. ( sambil masih mematung memandangi surat dari dewi ).

Cut To ; Scene 46 ext : Tepi sungai ][ act : ( sopian )

Sore itu sopian duduk melamun di tepi sungai, ia mengeluarkan surat yang di tuliskan oleh Dewi kemudian dengan tangan bergetar ia membaca nya :

( VO = Voice over : Dewi ) +  act : dewi writing

Hanya Dengan goresan pena ini semoga kau bisa merasa apa yang kurasa.

Sebelumnya maafku menulis surat  ini,

namun apa daya belenggu jiwaku sudah menggelora, bergetar menahan rasa.

aku tak tahu lagi bagaimana menyampaikan isyarat hati ini.

Aku tahu siapa kau dan ku harap kau juga tahu siapa aku.

Aku adalah setangkai bunga yang mekar dan mewangi sepanjang hari.

Namun demikian tiadaku memberikan pesonaku kecuali untukmu,

tiadaku memberikan wangiku keculai untukmu,

tiadaku memberikan semua kecuali untukmu.

Ku harap kau juga demikian ada nya, hanya untukku, bukan untuk siapa – siapa.

Setelah membaca, sopian mendesah dengan nafas panjang lalu ia berbaring di tepian sungai sambil mata nya menerawang jauh ke angkasa memikirkan sesuatu yang tiada orang lain tahu.

Cut To ; Scene 47 ext : depan rumah  ][ act : (Dewi dan Agus )

Gulungan awan menutupi terik nya matahari, angin pun berhenti berhembus seakan bosan dengan keadaan. Sementara sopian hari itu telah berkemas – kemas dan siap pergi untuk menunaikan cita – cita yang di kejar nya. bibi mengantar nya sampai di depan rumah sambil meneteskan air mata. Sementara sang paman mengantarkan nya sampai di terminal.

Cut To ; Scene 48 ext : depan rumah  ][ act : (Dewi dan Agus )

Sore itu dewi sedang bersantai di depan rumah nya, dari kejauhan agus datang dengan speda treal nya.

Agus                      : “Wi ini ada titipan dari  sopian”.  ( mengulurkan surat )

Dewi                       : “ makaseh ye, naek lah lok “. ( Sambil meraih surat tersebut )

Agus                      : “ e …udaham aku dah di tunggu sidak maen “. ( sambil membelokkan sepeda  )

Dewi                       : “ iyelah “. (dengan ekspresi wajah bahagia bercampur aduk)

Cut To ; Scene 49 ext : padang / pasir ][ act : (Dewi)

Tangan dewi bergetar membuka lembaran surat dari sopian. dengan seksama ia membaca nya.

( VO = Voice over : Sopian ) +  act : Sopian ; writing, going.

Ku tahu kau adalah bunga yang sedang mekar dan mewangi

Namun ,aku juga tahu siapa aku

Aku hanyalah kumbang yang hidup dalam pengembaraan

Dimana Saat ini

Aku tidak bisa menemani sang bunga

Dimana saat ini

Aku tiada bisa mencium wanginya sang bunga

Dimana saat ini

aku tidak dapat merasakan manis nya Cinta

Karena semua masih tergantung di angkasa

Apakah kau tiada ingin menggapai nya ?

Apakah kau telah di buta kan oleh Cinta ?

Sobat …

Ku tahu bagaimana rasamu …

Namun rasakanlah yang kurasa

Bahwa CINTA yang sesungguhnya

Hanyalah sebuah rangkaian kata yaitu ;

Capai Impian dan Cita – Cita.

Dewi Menggit bibir, air mata nya meleleh, ia terharu dengan lantunan syair – syair indah sopian. air mata dewi terus mengalir bagaikan mata air zamzam yang tak pernah kering. Ia menangis bukan apa – apa namun karena membayangkan bagaimana perjuangan sopian dalam meraih cita – cita nya dengan gigih, dengan segala rintangan, ujian, cobaan yang menghadang tiada membuat nya gentar sehingga ia berhsil melewati titik aman ke dua dalam meniti cita – cita.

— The End —

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: